secara gue baru aja lulus, nih ada artikel bagus. lumayan buat nambah ide, nambah wawasan. biar lu yang baru aja lulus tetep semangat mnapaki hidup kedepan meski pekerjaan blom di tangan. gak masalah…
pake aja waktunya buat matangin visi hidup lo. mau kerja? mau usaha?
oke, saatnya bro, lakuin semua yg lo mau lo pengenin yg sejak kuliah blom kecape. ini waktunya buat wujdin mimpi lu.
tapi eits, jangan lupa bro. kalo bisa mimpi kita bisa juga mewujudkan mimpi orang banyak juga. artinya, dibalik mimpi lo, ada mimpi orang laen juga. artinya, para wisudawan yg punya kesempatan udah terdidik 4 tahun lamanya di bangku kuliah lo punya tanggungjawab buat org2 yg gak da ksempatan kyak kita.dengan begitu, insyaallah sedikit demi sedikit kita bantu negara man!ngerti kan maksud gue?so, read more ya…
Sarjana Muda di Tengah Kebingungan
Penulis: Al-Biruni
Engkau sarjana muda……Resah mencari kerja/resah tak dapat
kerja
Mengandalkan ijazahmu/ tak berguna ijazahmu
Empat tahun lamanya……Bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan/ sia-sia semuanya….
Lirik lagu bertema kritikan sosial "Sarjana Muda"
di atas, tercipta sekitar tahun 1981 oleh musisi wakil rakyat Iwan Fals. Di
mana, mewartakan kondisi saat itu terdapat deretan panjang pengangguran
bertitel sarjana muda kian memprihatinkan di negara
Indonesia
tercinta ini.
Senyum kebahagian para sarjana bisa dianalogikan hanya
sehari. Esoknya mereka harus berpikir keras menentukan pilihan ke mana setelah
menggenggam gelar sarjana strata satu (S-1). Mau melanjutkan studi ke S-2 atau
bekerja. Bila akan bekerja, tentu bukan persoalan mudah, terlebih lagi bila
tidak memenuhi kualifikasi untuk memasuki lapangan kerja.
Sementara itu, jumlah lapangan kerja secara jelas tidak
sebanding dengan tingginya tingkat pencari kerja—saban tahun terus bertambah.
Pertumbuhan lapangan kerja di
Indonesia
dengan pertumbuhan pencari kerja sudah tidak lagi seimbang. Jika para sarjana
tidak bisa diserap oleh lapangan kerja dan tidak mau berwiraswasta atau membuka
usaha mandiri, tentunya akan menambah deretan panjang barisan pengangguran
intelektual di tanah air ini.
Kebingungan rentan menghampiri, bahkan menjadi momok
menakutkan sekaligus mengerikan. Sebuah mentalitas teruji bagi para sarjana merupakan
kunci utama dalam kehidupan bermasyarakat. Aneka ragam tipe manusia; agama;
suku; ras dan lain-lain, biasa kita temui di masyarakat. Bukan lagi tipe
sejenis—semasa kuliah hanya berada di tengah kalangan terpelajar—manusia akan
kita hadapi.
Menurut Prof. Dr. Syafe’i Ma’arif—guru besar Sejarah
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah,
bahwa "Terdapat kesalahan dalam orientasi pendidikan
Indonesia
. Pendidikan
Indonesia
membentuk mental pencari kerja, tetapi bukan mental mandiri dan menciptakan
lapangan kerja". Selain itu, Valentino dalam buku Jangan Mau Seumur Hidup
Menjadi Orang Gajian, memberikan warning buat generasi muda—terutama
sarjana—untuk jangan terlalu terobsesi mencari kerja, tapi coba berpikir menciptakan
sebuah obsesi bagaimana membuka lapangan kerja.
Melihat kualitas sarjana Indoensia, Prof. Dr. Kim Dee—Guru
Besar Ilmu Komunikasi University of Singapura. Pernah menyatakan bahwa “Pada
era pasar bebas nanti, ia berani bertaruh kalau ribuan mahasiswa
Indonesia
akan menjadi pekerja atau buruh
mahasiswa
University
of
Singapura
”.
Untuk memperjelas argumen tersebut, ia melihat PT di
Indonesia tidak melakukan apa-apa untuk menghadapi era globalisasi. Terbentang
realita, PT di Indonesia sama sekali tidak menciptakan sumber daya manusia
berdaya guna untuk membangun masa depan bangsa menuju arah lebih baik.
Berdasarkan data statistik pengangguran lulusan
Diploma/Akademisi tahun 2005 sekitar 322.836 jiwa—pemuda (138.749); pemudi
(184.087). Sedangkan, sarjana lulusan universitas sekitar 385.418 jiwa—pemuda
(184.497); pemudi (200.921), bila ditotalkan sekitar 708.254 jiwa pengangguran
dari kalangan sarjana muda (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia
,
2005).
Menurut hemat penulis, terdapat beberap faktor menyebabkan
sarjana muda berada di persimpangan jalan pasca kampus. Pertama, para sarjana
belum siap menghadapi dunia masyarakat. Tak salah, jika dibahasakan bahwa
kampus belum tergolong dunia kehidupan sebenarnya. Lantaran itu, mahasiswa
perlu mempersiapkan bekal untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat.
Dunia kampus adalah dunia pembelajaran, kesalahan atau tidak
berjalannya aktivitas dan pelbagai kegiatan kampus—seperti dalam perkuliahan;
menjalankan roda organisasi, paling kerugian pada diri mahasiswa atau
dikucilkan oleh rekan-rekan akibat kelalain itu. Namun, sebuah realita berbeda
ketika melakukan kesalahan atau tidak berjalannya aktivitas di dunia kerja atau
di tengah masyarakat pasca kampus. Bisa jadi, akan merugikan banyak kalangan
dan tidak bisa memenuhi kebutuhan (materi), bahkan bisa saja dipecat dari
pekerjaan semula.
Persiapan menjadi mutlak bagi mahasiswa ketika memutuskan
untuk menenteng gelas sarjana. Minimal, sebelum itu mahasiswa sudah mengetahui
sedikit banyak perihal kehidupan di masyarakat, sebagai misal mulai bekerja
atau membuka usaha mandiri ketika masih mahasiswa—pengalaman inilah sangat
berharga bagi mahasiswa agar tidak dirundung kebingungan setelah menjadi
sarjana.
Kedua, mayoritas Perguruan Tinggi meluluskan sarjana-sarjana-an.
Dalam kaidah bahasa
Indonesia
"Sarjana-sarjana-an" sama artinya dengan seperti atau menyerupai
sarjana, berarti belum sarjana. Penulis tertarik, ketika dalam sebuah kuliah
seorang dosen mengatakan bahwa tujuan kuliah adalah membuka cakrawala berfikir
bagi mahasiswa, bukan mencari nilai—bisa dibilang tak ada gunanya tanpa di
imbangi dengan kemampuan dalam bidang tersebut.
Dalam kacamata telanjang, cakrawala berpikir adalah
mempunyai wawasan intelektual luas dan beragam. Tahu pelbagai banyak hal dan
memiliki segudang kreativitas sekaligus aksi untuk melakukan sesuatu
bernotabene bermanfaat bagi individu mahasiswa sendiri atau masyarakat secara
lebih luas.
Di sinilah, mahasiswa dituntut untuk berfikir dan bekerja
keras dalam merealisasikan aksi tersebut. Ketika mahasiswa sudah siap dan mampu
untuk di terjunkan ke tengah-tengah masyarakat dalam rangka mengaplikasikan
ilmu secara jelas telah dipelajari. Ketika itu, barulah mahasiswa berhak
sekaligus pantas menenteng gelar sarjana bukan "Sarjana-sarjana-an".
Dua poin di atas, setidaknya menjadi pengamatan dan
pelajaran bagi Perguruan Tinggi di Indonesia untuk menyiasati gejala inflasi
sarjana. Di era globalisasi ini, telah terbukti bahwa sarjana Indonesia kurang
mampu bersaing dengan sarjana negara tetangga Indonesia di Asia pada khususnya,
seperti dalam Human Development Index/HDI laporan UNDP 2000 Indonesia berada di
posisi 109; Filipina (77); Thailand (76); Malaysia (61); Brunei Darussalam
(32); Korea Selatan (30); dan Singapura (24). Bahkan tahun 2003 laporan UNDP
Indonesia menurun berada di posisi 112 dari 175 negara (Kompas, 10 Juli 2003).
Bila dianalogikan dalam anekdot sarjana lulusan PT di
Indonesia era globalisasi ini, pada perlombaan balap antara Indonesia dengan
negara Filipina; Thailand; Malaysia; Brunei Darussalam; Korsel; dan singapura.
Sarjana
Indonesia
dapat
dilukiskan menggunakan keong; Filipina menaiki sepeda;
Thailand
menunggangi kuda;
Malaysia
mengendarai mobil; Brunei
Darussalam mengunakan kereta api; Korsel menyetir pasawat terbang; dan
singapura memakai roket.
Dari perlombaan diatas, sudah barang tentu bangsa
Indonesia
berada paling belakang dan sulit untuk melampau kontestan lain menuju garis
finish. Ketertinggalan bukan berarti terus tetap terbelakang, tetapi bagaimana
mencarikan solusi untuk menjadi terdepan. Secara jujur, penulis yakin bangsa
Indonesia
bisa menjadi terdepan kalau mau mengambil pelajaran dari pengalaman dan
kenyataan saat ini.
R. Andriadi Achmad
Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuda Islam Bengkulu-Sumatera
Barat (FKPIB-SUMBAR) Periode 2005-2007