Tentang Aku dan Raka
Hari ini aku merasa penat sekali. Entah
apa yang ada di pikiranku, sedang bekerja apa saraf-sarafku sekarang ini yang
kurasakan adalah kebosanan. Kebosanan mendengar materi kuliah yang sarat tugas
nan tak nyantol, kebosanan akan kesibukan yang terus memburu, belum lagi
rapat-rapat yang selalu berakhir dengan panas. Terlebih kelelahan yang terus
saja kurasakan. Tiiit…tiiit…oups smsku berbunyi..
From : Raka
cayank
aku sadar kl
aku egois.bnr2 n’ga bs sprt yg km inginkan n’bsamamu slalu. Mkn sdh saatnya
km…(diisi sndr)gmn?
Apalagi ini…Raka? Kenapa dengan Raka apa yang terjadi. Dia mikir apa
sih? Dia ngigau atau gimana??? Kulirik jam, jam 2 siang kok, dia pasti masih
dikampus so gak mungkin banget dia pake acara ngigau. Pulsa habis lagi. So, what ever deh mau ngomong apa. Cuek.
Paling juga ntar minta maaf salah nulis atau lagi buntu sama tugasnya.
Aku,
Raka? Baik-baik saja tuh. Sejauh
ini tidak ada masalah. Kutepis kecurigaanku. Aku tak mau berpikiran yang
tidak-tidak, mengingat bahwa orang yang berpikiran negatif akan tampak lebih
tua dibanding usianya. Sudahlah…aku abaikan saja sms itu. Kembali aku berkutat
dengan kesibukanku lainnya yang saat ini tengah memperbaiki proposal kegiatan
bersama temanku lainnya. Sebentar kemudian,
Titi..titi..tit..sms ku bunyi lagi
From : Raka cayank
Aku terlalu berbuat salah dneganmu..
Aduh
pa’an seeh? Ada apa…? Pliss,
katakan ini baik-baik saja. Ya, katakan semua baik-baik saja…Tapi sebenernya sih
aku kepikiran juga. Sepertinya ada sesuatu yang tidak enak akan terjadi. Kuakui,
akhir-akhir ini aku dan Raka lagi renggang. Apa iya semua baik-ibaik
saja Tarin? Apa iya kita tidak ada masalah? tanyaku dalam hati mencoba meyakinkan diri. Memang
sih kita renggang, tapi itu karena kesibukan masing-masing dan itu adalah hal
yang wajar. Yang jelas hubunganku dengan Raka tak lagi sehangat dan segencar
dulu. Bahkan sempat pula suatu waktu aku mempertanyakan tentang kelanjutan hubungan
ini saking terasa hambarnya hubungan ini. Masihkah atau…
Didukung
sms yang tidak ada latarnya, membuatku makin penasaran. Akhirnya kurogoh juga
uangku untuk membeli pulsa yang sebenarnya tak kuanggarkan untuk bulan ini. Disaat
seperti ini tidak ada harapan lain kecuali untuk meng-clear-kan semuanya. Sesuatu yang berat untukku..
Kamu kenapa?ada apa? sent
From : Raka cayank
Aku lagi mikirin hubungan kita
Tapi aku sayang kamu
banget. Kamu maunya gimana. sent
From : Raka cayank
semua terserah kamu
terserah kamu juga. Aku ingin terus.aku
Cuma ingin ketegasan. Sent
From : Raka cayank
Ya udah…terus
Maksudnya?? sent
Jujur,
aku tak tahu apa maksudnya. Aku hanya bisa membaca perlahan-lahan mencoba
mencari makna yang ia kirim via sms itu. Selanjutnya sms terakhirku tidak
dibalas olehnya. Aku semakin bingung dibuatnya. Mungkin butuh waktu untuk
berpikir-pikir lagi, dan merenung untukku juga Raka. Berharap esok adalah hasil
pemikiran yang matang kita berdua. ”Bahwa apapun badai itu kita pasti bisa melaluinya.
Karena kita team yang tangguh” kataku
dengan optimis.
Esoknya, di satu sore yang cerah mendadak mendung
tatkala menerima sms dari Raka (lagi).
From : Raka cayank
semua sudah jelas.terimakasih untuk
pujian dan kritikan.thx for everything.aku gak nyanka dan ga pgn bgt.maafin aku
ya
Gemuruh
didadaku membuncah dan berpetir-petir ingin keluar. Belum lagi lelehan air mata
yang tiba-tiba panas. Aku tidak menyangka bahwa pemikiran yang mantap darinya adalah
ia memutuskan hubungan ini. Tapi kenapa?Sekali lagi kenapa? Hp yang kupegang
ingin kulempar. Semua
persendianku bergetar tak teratur. Di saat ini..disaat aku butuh teman,
pegangan, dan tempat berbagi. Raka, why?Sungguh tak adil.Ini tak boleh
terjadi…
Dengan segala kekuatan yang tersisa
kuberanikan diri ke kosnya…entah punya kekuatan apa atau aku sedang di uji nyali oleh kru tv atau apalah, nyatanya
kakiku ikut gemetaran menanti kata selanjutnya yang akan ia ucapkan untukku. Semua
letupan emosiku membuncah. Tepat di depan pintu kmarnya aku mulai mengetuknya.
(ah apakah kos ini akan jadi museum untukku? Akankah menjadi saksi bisu
kemesraan aku dengannya). Belum…aku masih
ingin menikmati Susana kosnya yang asri. Penuh hijau dan warna warni bunga
taman. Koleksi kaktus Raka…dan…
Pintu terbuka…disitu ada Raka.
Raka
dan aku terdiam, dingin, membujur kaku..Tanpa basa basi aku langsung pada pokok
masalah..
”Maksud sms kamu apa?”
“Bagiku semuanya sudah jelas”
”Mau kamu gimana? Dua opsi. Putus atau
lanjut?”yang terpikirkan olehku, betapa aku ingin memeluk dia bila hubungan ini
lanjut….
“Kita selesai aja. Kita bisa temenan”
Runtuh semua. Aku tak mampu bicara. Tak ada yang perlu kukatakan lagi padanya,
tuntas sudah. Terjawab!!! Usai!!!
Aku hanya berlari dengan sisa kekuatan yang ada. Betapa oh betapa..teganya
Raka. Tidak ada masalah atau insiden apapun sebelumnya. Jarak yang terputus karena
liburan adalah hal biasa, dan bukan hal yang mendasar. Terlebih karena
kesibukan kuliah bukanlah alasan kuat. Konyol. Pendekatan tiga bulan usai dalam
hitungan menit. Aku bisa apa? Raka, apa
yang terjadi? Semudah itukah?
Dua, tiga hari setelah kejadian itu aku terus
menangis. Berat untukku.
Betapa kuingin mendengar kalimat tersebut dicabut. Betapa kuharap ini sekedar
mimpi. Sia-sia, semua riil dan itulah
yang kini kuhadapi. Rasanya aku ingin tenggelam dan ditelan bumi saja.
Sederhana. Mungkin ini rasanya patah hati. Tercabik-cabik, luluh lantak tak
berdaya…ah aku ngomong apa sih kayak di novel-novel saja…namun yang pasti aku
benar-benar dalam lautan tangisan dan genangan duka. Hiperbolis tapi itulah
yang kini kurasakan benar…
***
Aku
masih dalam selimut duka. Duka yang mendalam yang harusnya hari ini aku
mengibarkan bendera setengah tiang. Hari ini aku ada kegiatan di kampus membuat
buletin. Mau deadline kata Bu Ang, jadi kugunakan waktu Sabtu Minggu untuk menggarapnya
di kampus. Lumayan, dengan sibuk ini aku sedikit melupakan Raka. Setelah
sekitar lima jam-an di depan komputer, aku baru sadar di ruang editor ini ternyata
hanya ada aku seorang. Sedang teman lainnya ke ruangan sebelah.
Merasa sepi dan takut sendirian, aku menyalakan. Winamp.
….Ada band mengalun.., tembang kenangan aku dan
raka.
Berganti dengan lagu ari lasso yang ”hampa”seolah
menggambarkan suasana hatiku saat ini. Mata ini pun akhirnya meleleh lagi.
Diam-diam aku kembali menangis. Kenapa ruangan ini menjadi sunyi. Aku jadi
menyesali kenapa temanku lainnya tidak berada di sebelahku saat ini agar aku
tak kembali merasa sendiri seperti ini.
Aku mengerjakan buletin sampai malam yang mengharuskanku
menginap di kampus. Kulihat hp-ku. Tak seoramng pun sms. Lelah, aku pun tidur
di ruangan buletin. Tiba-tiba aku terbangun demi gaduhnya musik jurusan
sebelah. Dasar jurusan hedon, tiap malam minggu tidak jauh-jauh dengan namanya
musik dan bazar. Kulihat lagi
hp-ku, sekarang sudah mati, baterenya habis. Kasihan dia. Tergolek tak berdaya.
Kalau dulu aku selalu balik ke kos kalau lupa membawa hp karena takut Raka akan
menelpon atau mengsms, sekarang tidak lagi. Membawa atau tidak, tidak
signifikan mempengaruhi hidupku. Memangnya siapa yang akan menghubungiku kecuali
teman kampus yang hanya mengingatkan tugas dan rapat? Jomblo abislah ceritanya.
Dan itu membuatku semakin merasa kehilangan Raka.
Aku
keluar melihat acara musik jurusan itu. Lumayan menghibur ditengah kepenatan otakku. Refreshing sebentar tidak salah
kan? Beberapa menit berikutnya aku masuk ruangan lagi. Refreshingnya sudah cukup. Iseng-iseng aku mencoba
menyalakan hp. Bener-bener iseng, motivasinya. Tililit…suara batere
meronta-ronta…
Tak kuduga tiba-tiba ada sms masuk
From: Raka
Rin, aku menunggu kmu dibawah ruangan
buletinmu.tpatnya di selasar jurusan X. Ada yg pgn ak bcarain.
Aku melihat jamnya, jam 8 malam. Sekarang? Hah,
sudah jam 10 …Ah, Raka…maafin aku. Raka, seandainya kamu tahu aku ingin
sekali bertemu denganmu. I miss u soo..Kemudian aku membalas smsnya
Ka, maaf baru buka.masih mau ketemu gak?
Ak msh d ruang bultin, d kmps. sent
Sudah kuduga, smsku tidak dibalas.
Hatiku pasca putusku dengan Raka kembali
menjadi haru biru. Ternyata sakit ya putus itu??? Walaupun aku berbesar hati
dengan memberikan kebebasan atas kelanjutan hubungan ini, tapi ternyata aku tak
bisa berbesar hati menerima keputusan ini semudah teorinya.
”Tarin, kenapa sih kalian bisa putus?”seorang
teman bertanya padaku.
”Aku gak tahu”
”Kok?”
”Aku gak nanya. Untuk apa toh ga da artinya lagi,
kan tetep aja dia mau putus sama aku”
”Kamu sih gak mau memperjuangkannya. Setidaknya
bila kamu ada salah, kamu kan bisa minta kesempatan untuk memperbaiki”
”Aku rasa kita tidak ada masalah, Sungguh…”
Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bertanya ke
Raka, sekaligus menilai apakah Raka pantas untuk kulupakan sebagai kenangan
indah atau justru buruk. Begitulah pesan sahabtku itu. Dan kupikir, ada
benarnya. Apakah sekarang belum telambat??
Hari berikutnya aku menghubungi Raka, sekdar tak
ingin pasrah dengan keadaan.
”ka, aku mau ngomong
sama kmu. Ktemu di taman kampus tar sore jam 4 ya”sent
Aku menunggunya. Tak lama kemudian Raka menyusul. Sejenak
kami terdiam, merasakan keterasingan antara kami sekaligus menghargai jeda yang
tercipta.
”Hai ka pa kabar?”kataku mengawali
”Baik”
”Maaf ya Ka kemaren aku gak tahu sms mu”
”Iya gak pa-pa”
”Emang ada apa Ka?”
”Mau tahu kabar kamu aja”
”…” Ah, Raka. So sweet…
”Ka, aku merasa berat atas perpisahan ini”aku ku
tak bisa membohongi diri dan Raka harus tahu itu. Sambil berkata begitu, aku
membuang muka untuk menghindari tatapan tajam Raka.
”Maaf Rin. Aku bisa ngerasain sedihmu tapi Rin, aku
gak bisa nerusin hubungan denganmu. Sekali lagi maaf kalau membuatmu kecewa.”
”..”
”Rin, aku juga merasa tersiksa dengan keadaan ini.
Aku juga sedih sepertimu. Percayalah. Ini adalah pilihan yang sulit. Bukan
mauku juga harus begini akhirnya”
“Lalu siapa?Kenapa Ka? Jelaskan Ka, aku gak ngerti”
”Karena keadaan Rin”
”Ka, bukankah hubungan kita selama ini baik-baik
saja? Pun kalau ada masalah, bisa kita bicarakan
baik-baik. Gak harus maen putus begini”
“..”
“Ka?”
“Rin, aku dijodohin”katanya pelan.
Aku menggeleng tidak mengerti.
”Aku baru tahu seminggu sebelum kita putus. Aku ada darah bangsawan di daerahku sana. Sehingga tidak boleh dengan orang yang ”berbeda”denganku.
Harus berasala dari daerah yang sama. Ya gitulah, adatnya”
”Terus, kamu mau?”
”Kata ibuku, itu adalah wujud bakti anak ke
keluarga. Aku bisa apa Rin kecuali pasrah menerima tawaran itu. Calonnya sudah
ada di daerah sana Rin. Lepas lulus nanti aku akan menikah dengannya. Jadi kupikir, aku harus memutuskan
hubungan kita agar tidak sia-sia belaka”.
Aku berpikir sebentar. Adalah wajar ini pilihan
sulit untuk Raka.
”Aku bisa ngerti pilihanmu adalah keluarga,
dibanding aku Ka. Mungkin aku snagat kehilangan dengan putusnya kita. Tapi ya
sudahlah Ka. Makasih ya pernah menamni hari-hariku”.Raka kemudian memegang
jemariku untuk meyakinkan kalimatku terakhir.
Aku
tidak menyangka Raka akan mengalami nasib seperti itu. Masih ada ya jaman
sekarang? Aku tak habis pikir dan mencoba untuk memaklumi atas perpisahan kami.
***
Aku
baru saja jogging sore di sekitar komplek kampus. Tiba-tiba tak sengaja mataku
tertuju pada motor ninja warna hijua. Raka. Dengan keinginan tahu yang tinggi
bak detektif, aku mengamati pemandangan yang tampak dihadapanku itu. Yang
terlihat adalah Raka sedang berbincang, tertawa, ceria dengan seorang
perempuan. Gerak tubuhnya mesra, seolah bukan teman biasa. Cemburu mungkin ada.
tapi lebih pada kecewa. Dengan perasaan kalut aku menghampiri dan samar-samar
aku mendengar,
”Iya sayang tar kamu maen aja ke rumah, ortuku
baik kok”kata perempuan itu.
SAYANG??? BAH!!!
”Hai Ka!”seruku
Raka tampak kaget.
”Ini jodoh lu?”sindirku memancing ekspresinya.
Perempuan disebelahnya bingung.
”Eh Tarin. Eh iya anu..”Raka gelagapan.
”Ngomong apa sih sayang?”tanya perempuan itu lagi
”Kamu apanya Raka?”tanyaku ke perempuan yang sama.
”Pacar”
”Kapan jadiannya?”
”Kemarin”
”Bagus Ka. Baru kemaren kamu minta pengertian aku
atas putusnya kita karena kamu mau dijodohin. Ternyata nol! Dihari yang sama
kamu justru udah gandeng pacar baru” aku tak butuh komentarnya lagi. Aku
langsung berlalu saja meninggalkann mereka berdua. Aku masih mendengar jelas
ketika Raka memanggilku. Hebatnya kali
ini, tak ada air mata.
Raka,
aku kecewa, aku sakit hati. Tapi melihat keadaan seperti ini, mungkin kamu tak
lebih seperti sampah, Ka. Kamu menghancurkan sebuah cinta yang tulus. Kamu tak
menghargai itu Ka. Kamu telah menyia-nyiakan orang yang mencintaimu dengan
segenap hatinya yang dalam.
Entah mengapa saat itu pula aku tak lagi sedih dan
merasa melankolis seperti awal putus dulu. Aku kini lebih yakin untuk mendapatkan
yang lebih baik darinya, sometimes Tak perlu menyesali lagi karena putus dengan
Raka. Justru bersyukur di usia pacaran yang masih setahun karena bila lebih
lama lagi, mungkin aku akan semakin cinta dan sukar lepas dari dirinya.
Cukuplah saja ini menjadi kenangan yang harus dikubur. Biarkan selamanya ini
menjadi cerita tentang aku dan Raka.